Dampak Covid-19, Kasus Perceraian di Pengadilan Agama Simalungun Melonjak

SUARA UTAMA, Simalungun – Pengadilan Agama (PA) Simalungun wilayah Provinsi Sumatera Utara berwenang menangani kasus perceraian dan kasus hukum keluarga lainnya, seperti; kasus waris, hak asuh anak, harta gono-gini, pengesahan nikah, pengangkatan anak dan ekonomi syariah.

Jumlah kasus perceraian tahun 2021 melonjak tajam, mencapai 1.780 perkara. Hingga berita ini dikabarkan jumlah kasus perceraian yang masuk di PA Simalungun sudah mencapai angka 67 kasus.

Menurut Ketua PA Simalungun Muhammad Arif, S.Ag, M.Si, perceraian yang masuk diajukan oleh pihak isteri dan pihak suami. “Kasus perceraian terbagi dua, perceraian yang diajukan suami disebut cerai talak dan perceraian yang diajukan isteri disebut cerai gugat, kedua kasus perceraian itu banyak didaftarkan di kantor kami,” katanya kepada suarautama.com, Senin (10/01/2022).

Lebih lanjut Arif mengatakan, melonjaknya angka perceraian di Kabupaten Simalungun ada beberapa alasan. Pertama, kondisi geografis Kabupaten Simalungun yang besar dan luas, mulai dari perbatasan Medan hingga perbatasan danau toba Kabupaten Samosir dan Kabupaten Balige, hal itu mengakibatkan masyarakat rentan terhadap konflik rumah tangga.

“Mereka terpencil, kurang paham hukum dan tuntunan agama, rentan sekali terjadi perpecahan dalam rumah tangga,” tegas Muhammad Arif.

Kedua, perekonomian yang sulit akibat pandemi covid-19 yang belum usai. Ketua PA Simalungun menegaskan hal itu karena jumlah pengangguran meningkat.

“Masa pandemi yang semakin hari semakin banyak menjadikan pengangguran disana-sini, apalagi kasus omricon sudah masuk Sumatera Utara, ini menjadi catatan bagi pemerintah daerah,” katanya.

Menanggapi hal itu, Bupati Kabupaten Simalungun juga prihatin atas kasus covid-19 yang belum usai, apalagi disusul kasus covid varian baru yaitu omricon. Dampaknya bermacam-macam mulai dari kehilangan pekerjaan hingga perceraian.

Ke depan, baik PA Simalungun maupun Pemerintah Kabupaten Simalungun akan bersinergi mengurangi angka perceraian yang masuk, salah satunya melalui penyuluhan hukum dan agama kepada masyarakat serta menyiapkan lapangan kerja. (ATH)

Editor : Mas Andre Hariyanto