Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Muzakki Membayar Zakat

Oleh : Muhammad Taufik dan Muhammad Defrizal
Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

SUARA UTAMA, BUKITTINGI – Menjelang bulan Rahadahan banyak masyarakat yang sudah menghitung berapa kekayaan yang sudah mereka peroleh selama satu tahun, dan berapa zakat yang harus dibayarkan. Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh seseorang apabila yang sudah beraqidah Islam, diperintahkannya untuk membayar Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) bertujuan untuk membersihkan harta yang kita miliki dengan memberikan sebagian harta kita kepada golongan yang berhak menerima zakat sesuai dengan ketentuan-Nya dan zakat sendiri ada dalam Rukun Islam yang kita pahami ada 5 Rukun.

BACA JUGA : Kebutuhan dan Keinginan akan Koperasi Syariah

Jumlah dan jenis zakat yang dibayarkan, Islam telah mengatur itu semua kebanyakan orang Islam pun berkeyakinan bahwa zakat mempunyai peran penting dalam pemberdayaan ekonomi umat.

Foto : Pembelajaran Kelas Jurnalistik Official Coach Mas Andre Hariyanto – 081232729720/Suara Utama
Foto : Pembelajaran Kelas Jurnalistik Official Coach Mas Andre Hariyanto – 081232729720/Suara Utama

Salah satu indikator kemajuan zakat Indonesia yaitu terjadi peningkatan penghimpunan zakat yang cukup tinggi dari tahun ke tahun. Berdasarkan data hingga saat ini, tren penghimpunan zakat nasional masih sangat positif, dimana total zakat, infaq dan sedekah (ZIS) yang terhimpun dari muzakki melalui lembaga amil mencapai angka Rp1,729 trilliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 15,3% dibandingkan tahun sebelumnya, dan naik 25 kali lipat dibandingkan dengan data sebelumnya (Huda.dkk, 2015: 27). Hal ini didukung oleh pernyataan Direktur Pelaksana Baznas yaitu Teten Kustiawan.

BACA JUGA : AR Learning Center Gelar Offline Training di Bandung dan Makassar

Pemerintah Indonesia telah memperizinkan pendirian lembaga- lembaga amil zakat yang bertugas untuk menerima zakat yang wajib dibayar oleh umat Islam yang mempunyai harta lebih banyak atau kaya. Banyaknya lembaga amil zakat yang berdiri cenderung independen dan mencanangkan program masing-masing yang lemah membangun koordinasi dan sinergi antara satu lembaga dengan lembaga lainnya, demi terwujudnya pengelolaan zakat untuk mengurangi kemiskinan dibutuhkan dan sangat perlu campur tangan pemerintah, muzakki membayar zakat bukanlah bentuk dermawan melainkan bentuk kewajiban seorang muslim. Pemerintah boleh memaksa muzakki/ golongan orang yang mampu membayar zakat untuk melaksanakan perintah-Nya.

Pemerintah Indonesia membuat aturan untuk mempermudah muzakki membayarkan kewajibannya tentang keagamaan seperti zakat dengan mengeluarkan peraturan Dirjen Pajak No PER-33/ PJ/ 2011 yang berlaku sejak tanggal 11 November 2011 tentang zakat dan sumbangan keagamaan yang bersifatnya wajib dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Dirjen pajak telah menetapkan 20 badan dan lembaga sebagai penerima zakat dan sumbangan keagamaan yaitu 1 Badan Amil Zakat Nasional dan 15 Lembaga Amil Zakat, 3 Lembaga Amil Zakat, Infaq, Shodaqoh dan 1 lembaga sumbangan Agama Kristen Indonesia.

Foto : Pembelajaran Kelas Jurnalistik Official Coach Mas Andre Hariyanto – 081232729720/Suara Utama
Foto : Pembelajaran Kelas Jurnalistik Official Coach Mas Andre Hariyanto – 081232729720/Suara Utama

Motivasi membayar zakat ada dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal, untuk faktor internal berasal dari karakteristik muzakki dan untuk faktor eksternal berasal dari Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Faktor internal yang mempengaruhi motivasi muzakki dalam membayar zakat berasal dari karakteristik muzakki yaitu tingkat
keimanan dan pengetahuan tentang zakat. Faktor tingkat keimanan mendominasi adanya persepsi dalam mengeluarkan zakat. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin tinggi pula kewajiban dalam mengeluarkan zakat. Faktor pengetahuan tentang zakat ini mengacu pada kepribadian seseorang untuk menjalankan hukum-hukum Islam seperti halnya dalam membayar zakat atas penghasilan.

Faktor lainnya yaitu faktor eksternal yang berasal terhadap motivasi muzakki membayar zakat di Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yaitu komunikasi pemasaran, akuntabilitas dan transparansi pelaporan keuangan. Komunikasi memiliki peran penting juga untuk bersosialisasi dengan masyarakat, khususnya kepada muzakki dan mustahik. Komunikasi yang dimaksud disini adalah komunikasipemasaran. Tantangan utama dalam pemasaran adalah menarik perhatian orang, yaitu menemukan cara baru untuk menarik perhatian dan menanamkan brand dalam benak setiap orang (Kotler, 2005: 117).

Foto : Pamflet Oprek Jurnalis Suara Utama Se-Nasional-081232729720/Mas Andre Hariyanto
Foto : Pamflet Oprek Jurnalis Suara Utama Se-Nasional-081232729720/Mas Andre Hariyanto

Dari uraian yang telah disampaikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas dan transparansi keuangan entitas publik merupakan upaya pertanggungjawaban entitas publik yang berkenaan dengan pengelolaan keuangan entitas tersebut kepada publik secara terbuka dan jujur melalui media berupa penyajian laporan keuangan yang dapat diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan anggapan bahwa publik telah mengetahui informasi tersebut.Meskipun akuntabilitas dan transparansi merupakan atribut yang terpisah, namun pelaksanaan akuntabilitas memerlukan adanya suatu transparansi.Konsep transparansi dalam Islam adalah (1) Organisasi bersifat terbuka kepada muzakki. (2) Informasi harus diungkapkan secara jujur, relevan, tepat waktu dapat dibandingkan dan meliputi segala hal yang terkait dengan informasi yang akan diberikan, dan (3) Pemberian informasi juga perlu dilakukan secara adil kepada semua pihak yang membutuhkan informasi (Tapanjeh, 2009: 563 dalam Rizky, 2013: 32).

Undang- undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, tujuannya supaya organisasi pengelola zakat dan infak/ sedekah dapat menjalankan fungsinya baik sesuai agama maupun negara. Undang-undang zakat mengatur fungsi organisasi pengelola zakat dan infak/ sedekah yang berada dibawah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah lembaga yang bertugas mengelola zakat yang memiliki kewenangan secara nasional. Organisasi pengelola zakat daninfak/ sedekah wajib melaporkan pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang sudah diaudit kepada BAZNAS secara berkala.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah akuntan di Indonesia sejak tahun 2008 telah membuat Exposure Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ED PSAK) No. 09 Akuntansi Zakat dan Infak/ Sedekah. ED PSAK No. 109 Akuntansi Zakat dan Infak/ Sedekah dibuat dengan tujuan menyamakan bentuk laporan transaksi zakat dan infak/ sedekah yang semakin komplek. Menyamakan bentuk laporan keuangan organisasi pengelola zakat dan infak/ sedekah maka akan lebih mudah dalam mengauditnya.

Sejak 2008 ED PSAK No. 109 Akuntansi Zakat dan Infak/ Sedekah telah dibuat oleh IAI. Pada tahun 2010 tepatnya tanggal 6 April PSAK 109 Akuntansi Zakat dan Infak/ Sedekah telah disahkan (Asrori, 2015).

Adanya lembaga zakat sangatlah mempermudah untuk para muzakki yang ingin menyalurkan zakatnya.Namun, tidak semua umat Islam di Indonesia berkeinginan untuk membayar zakat.Masalah ini, disebabnya karena kurangnya rasa tanggung jawab terhadap agama yang diyakini, bisa dikarenakan kurangnya rasa percaya dari masyarakat terhapat lembaga amil zakat.

Demikian, semoga bermanfaat.

Editor : Mas Andre Hariyanto