Islamic Concumption Behavior

Oleh: Cici Rahmadhani & Rossyta Asril 
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Bukittinggi, Sumatera Barat

SUARA UTAMA, BUKITTINGGI – Konsumsi dalam perspektif ekonomi konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala bentuk kegiatan ekonomi. Bahkan ukuran kebahagiaan seseorang diukur dengan tingkat kemampuanya dalam mengkonsumsi. Konsep konsumen adalah raja menjadi arah bahwa aktifitas ekonomi khususnya produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen sesuai dengan kadar relatifitas dari keinginan konsumen, maka pada karya ilmiah dimaksudkan untuk menjelaskan tentang Batasan Anggaran dalam Konsumsi kemudian pola kosumsi masyarakat muslim (Constrain Dalam Kajian Syariah Selain Anggaran).

BACA JUGA :  AR Learning Center Sukses Gelar CHRA, Ada Peserta Luar Negeri Lagos Nigeria Ikut Serta

Pendahuluan
Kajian Islam tentang konsumsi sangat penting, agar seseorang berhati-hati dalam menggunakan kekayaan atau berbelanja. Suatu negara mungkin memiliki kekayaan melimpah, tetapi apabila kekayaan tersebut tidak diatur pemanfaatannya dengan baik dan terukur maslahahnya, maka kesejahtera-an (welfare) akan mengalami kegagalan. Jadi yang terpenting dalam hal ini adalah cara penggunaan yang harus diarahkan pada pilihan-pilihan (preferensi) yang mengandung maslahah (baik dan bermanfaat), agar kekayaan tersebut dimanfaatkan pada jalan yang sebaik-baiknya untuk kemakmuran dan kemaslahatan individu,masyarakat dan rakyat secara menyeluruh. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Sejak kecil, bahkan ketika baru lahir, manusia sudah menyatakan keinginan untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara, misalnya dengan menangis untuk menunjukkan bahwa seorang bayi lapar dan ingin minum susu dari ibunya. Semakin besar dan akhirnya dewasa, keinginan dan kebutuhan seorang manusia akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia tertentu untuk seterusnya menurun hingga seseorang meninggal dunia.


Batasan dalam anggaran sangatlah diperlukan karena jika seseorang mempunyai batas anggaran minimal dalam membelanjakan hartanya, tentu batasan ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan konstrain yang tinggi. Semangat hidup sederhana akan sangat membantu seorang konsumen muslim untuk mencukupkan diri kepada hal-hal yang tidak berlebihan. Dengan gaya hidup seperti itu maka seseorang akan merasa puas dengan apa yang ada bahkan dapat menyisihkan sisa anggarannya untuk di tabung (reserve). Sehingga pola hidup yang konsumtif dapat diganti dengan pola investasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan dalam hal materi.

Pentingnya kesadaran masyarakat untuk menghindari produk-produk yang haram dapat meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat yang jangka panjangnya dapat melahirkan generasi-generasi yang sehat secara jasmani maupun rohani. Begitu juga dengan supply produk halal yang akan terus meningkat, disebabkan oleh kesadaran masyarakat akan konsumsi produk halal dan thoyyib sehingga permintaan akan produk tersebut pun meningkat.

Perbedaan Perilaku Konsumen dalam Ekonomi Konvensional dan Ekonomi Islam
Perilaku konsumen dalam perspektif ekonomi konvensional dan hukum ekonomi Islam dapat dibedakan menjadi lima, yaitu:

Pertama, terletak pada pandangan manusia terhadap kehidupan dunia. Ekonomi konvensional memandang bahwa kehidupan dunia merupakan hak mutlak bagi manusia untuk hidup bebas sesukanya dengan mencapai kepuasan tanpa berfikir sedangkan perilaku ekonomi islam bahwa semua yang diperoleh dan digunakan manusia adalah penciptaan dari Tuhan.

Kedua, terletak pada prinsip konsumsi. Dalam tatanan ekonomi konvensional, prinsip yang menjadi pedoman aktivitas konsumsi adalah prinsip freedom, self interest,dan materialistis.

Ketiga, terletak pada konfigurasi kebutuhan konsumen. Dalam ekonomi konvensional, kebutuhan ditentukanoleh konsep kepuasan (utility) sehingga pembagian kebutuhan tersebut dibagi berdasarkan tingkat intensitas, sifat, subjek yang membutuhkan,dan waktu. Menurut intensitas penggunaannya, kebutuhan dapat dibagi menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Menurut sifatnya, kebutuhan terdiri dari kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.

Aplikasi Teori komsumsi Islami.

BACA JUGA :  AR Learning Center Gelar Offline Training di Bandung dan Makassar


Berikut teori dalam konsumsi islam antara lain :
a. Korelasi Positif Antara Hidup Sederhana dan Tingkat Kesejahteraan
Didalam ekonomi mikro, kita mengenal istilah budget constrain (batas anggaran). Dimana seseorang mempunyai batas anggaran minimal dalam membelanjakan hartanya. Segala keinginan pasti ada konstrain yang membatasinya, tentu batasan ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan konstrain yang tinggi.

Semangat hidup sederhana akan sangat membantu seorang konsumen muslim untuk mencukupkan diri kepada hal-hal yang tidak berlebihan. Dengan gaya hidup seperti itu maka seseorang akan merasa puas dengan apa yang ada bahkan dapat menyisihkan sisa anggarannya untuk di tabung (reserve). Sehingga pola hidup yang konsumtif dapat diganti dengan pola investasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan dalam hal materi.

b. Konsumsi Halal dan Thoyyib dengan Tingkat Kesehatan Masyarakat
Dalam teori ekonomi, peningkatan permintaan suatu produk akan berpengaruh terhadap peningkatan usaha penyedia (Supply Side) produk tersebut. Halal itu jelas begitu juga dengan haram. Setiap yang diharamkan oleh Allah pasti mengandung mudharat/kerusakan bagi manusia itu sendiri begitu juga sebaliknya. Contoh, sebagian besar ulama mengharamkan rokok disebabkan oleh banyaknya mudharat yang timbul akibat merokok, minuman keras yang dapat merusak otak dan jaringan-jaringan fital manusia, berjudi yang dapat menyebabkan penzoliman/merugikan salah satu pihak, atau lain sebagainya.

Pentingnya kesadaran masyarakat untuk menghindari produk-produk yang haram dapat meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat yang jangka panjangnya dapat melahirkan generasi-generasi yang sehat secara jasmani maupun rohani. Begitu juga dengan supply produk halal yang akan terus meningkat, disebabkan oleh kesadaran masyarakat akan konsumsi produk halal dan thoyyib sehingga permintaan akan produk tersebut pun meningkat.

c. Kedermawanan Akan Melahirkan Produktivitas Ekonomi
Islam sangat memuliakan orang yang dermawan dan melaknat sikap kikir. Prilaku dermawan adalah prilaku mulia yang sangat didorong oleh Islam. Banyak dalil Al-Qur’an dan Hadits yang memotivasi manusia untuk menyuburkan prilaku kedermawanan dalam kehidupan. Kedermawanan juga dapat menggairahkan aktivitas ekonomi, dikarenakan orang yang mempunyai daya beli (Purchasing Power) akan mensuply orang-orang yang tidak mempunyai daya beli, dengan itu ekonomi pun akan bergerak kearah yang positif.

Penutup
Aktivitas Ekonomi yang paling utama adalah konsumsi, maka setelah adanya konsumsi ada kegiatan lainya seperti produksi/produsen, distribusi/distributor. Karena konsumsi dalam ekonomi islam adalah berupaya untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani (seperti lapar,hiburan,kebutuhan sandang,pangan dan papan) maupun rohani (berhubungan dengan ilahiyah) atau disebut dengan Equilibrium, sehingga mampu memaksimalkan fungsi kemanusiaan sebagai hamba Allah SWT untuk mendapatkan kesejahteraan atau kebahagian didunia dan akhirat (falah) dengan disertai nawaitu supaya bernilai ibadah bukan berarti untuk memenuhi keinginan dunia saja. Konsumsi adalah menghabiskan nilai guna suatu barang untuk kebutuhan atau pengeluaran memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan sedangkankan konsumsi islam bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut tetapi juga untuk mencapai maslahah. Konsumsi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk mengikuti keinginan.

Tujuannya agar tercapainya atau didapatkan falah oleh setiap individu dalam masyarat maksudnya dalam suatu masyarakat seharusnya tidak ada seorangpun yang hidupnya dalam keadaan miskin serta konsumsi dalam islam harus dilakukan pada barang yang halal dan baik dengan cara berhemat (saving), beinfak (maslahat) dan menjauhi judi, khamar, gharar dan spekulasi, ini berarti bawah perilaku konsumsi yang dilakukan manusia (terutama muslim) harus menjauhi kemegahan, kemewahan, kemubadziran dan menghindari hutang.


Bahwa Islam telah mengatur kegiatan konsumsi dengan baik. Perilaku konsumsi islam membedakan konsumsi yang dibutuhkan yang di dalam islam disebut kebutuhan hajar dengan konsumsi yang diingikan atau disebut syahwat. Jadi konsumsi yang sesuai kebutuhan atau hajat benar-benar dibutuhkan untuk hidup secara wajar. Sedangkan konsumsi dengan keinginan atau syahwat meruapakan konsumsi yang cenderung berkelebihan, mubadzir dan boros. Dan konsumsi islam dasar perilaku dengan berlandaskan Al-Qur’an dan hadist dengan tujuan memaksimalkan maslahah (kebaikan), bukan untuk memaksimalkan kepuasan (maximum utility).

Budget constrain  (batas anggaran) adalah dimana seseorang mempunyai batas anggaran minimal dalam membelanjakan hartanya. Segala keinginan pasti ada konstrain yang membatasinya, tentu batasan ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan konstrain yang tinggi.

Semoga bermanfaat.

Editor : Mas Andre Hariyanto