Ketika Kekritisan Dilecehkan oleh Post Truth

SUARA UTAMA Ketika seorang mengetahui kebenaran, tetapi lebih memilih menyembunyikan. Sementara orang yang tidak mengetahui kebenaran, ia menganggap kebohongannya sebagai suatu kebenaran. Dikarenakan banyak orang yang sependapat, maka banyak yang menganggap bahwa kebohongan tersebut sebagai sebuah kebenaran baru atau kebenaran yang terlahir akibat dari sebuah anggapan banyak orang.

BACA JUGA : Salah satu Lembaga Terbaik di Zaman Covid-19, AR Learning Center Besutan Mas Andre Hariyanto Paling Laris Manis

Sebagaimana seorang wanita bernama Ratna Sarumpaet. Masih segar diingatan bahwa ia berbohong mengenai kondisinya, dikarenakan ia malu mengakui hal tersebut. Bahwa ia dihajar habis-habisan oleh sekelompok manusia keji. Kemudian para tokoh yang kebetulan mengenalnya murka. Lalu, mereka mengancam akan memidanakan sekelompok manusia yang keji tersebut. Tetapi hal itu ternyata hanyalah cerita bohong atau hoaks. Lalu bagaimana reaksi dari orang yang tahu hal tersebut? Tidak percaya dan melongo. Apalagi para tokoh yang sigap membela, malah diam-diam menghilang dan tak mau tahu lagi.

Foto Pamflet : Pasang Iklan dan Banner di SUARA UTAMA Silakan kontak 081232729720/Suara Utama
Foto Pamflet : Pasang Iklan dan Banner di SUARA UTAMA Silakan kontak 081232729720/Suara Utama

Meskipun Ratna orang yang baik, tetapi ia bermaksud untuk menyembunyikan kebenaran. Sehingga hal ini tentunya membuat kepercayaan terhadap dirinya dan orang di sekitarnya ikut menurun. Ia pun semakin malu, lantaran kebohongannya terungkap dan semakin meluas. Hingga akhirnya bisa saja ia menyesali perbuatannya tersebut.

BACA JUGA : How to Choose a Good Leader (Memilih Pemimpin yang Baik)

Seperti halnya di media sosial, yang menyajikan informasi yang belum pasti kebenarannya, tetapi ditambahkan bumbu-bumbu hoaks. Supaya menyakinkan, maka ditambahi fakta-fakta yang sebenarnya tidak berhubungan. Tetapi orang yang sependapat justru membuatnya viral. Setelah itu banyak akun lain yang me-repost atau membagikan kembali. Lalu, terjadilah pro kontra. Pada akhirnya, informasi tersebut bisa saja berakhir menjadi kebenaran.

Foto: Poster Pelatihan Trainer Of AR Learning Center CT.ALC/Mas Andre Hariyanto
Foto: Poster Pelatihan Trainer Of AR Learning Center CT.ALC/Mas Andre Hariyanto

Kritis berarti memilih sikap untuk tidak mempercayai sesuatu atau apapun dengan mudah, tidak menelan informasi mentah-mentah, tetapi seperti halnya meminum obat. Maka memeriksa terlebih dahulu nama obat tersebut, bagaimana efeknya, apa khasiatnya, apakah kandungannya itu aman, dan lainnya. Mempertimbangkan sumber informasi tersebut darimana asalnya, apakah bisa dipercaya? Kemudian menafsirkan, untuk selanjutnya menentukan keputusan.

Sementara post truth era atau era pasca kebenaran dianggap sebagai peristiwa di mana fakta dapat dikalahkan oleh emosi sosial atau keyakinan banyak orang, yang disebut dengan opini publik. Opini publik yang tercipta dari emosi dan keyakinan pribadi tersebut untuk tetap kukuh di dalam menolak fakta yang ada di depan mata. Dikarenakan rasionalitas berpikir yang tertutup akibat emosi negatif yang mulai meluap. Dikarenakan tidak setuju maupun menerima fakta tersebut. Apalagi jika hoaks datang dan mulai menghasut banyak orang.

Ketika orang yang membenci suatu hal, dan orang lain ternyata merasakan perasaan yang sama. Maka hal ini bisa membentuk gumpalan kebencian. Semakin banyak orang yang membenci,maka semakin dekat menuju kebenaran. Menjadikan satu kebohongan itu berubah menjadi banyak kebohongan, yang akan mengubahnya menjadi kebenaran. Informasi yang terlalu cepat berubah, menjadikan orang sulit membedakan. Mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Di media sosial ada filter bubble, di mana media sosial tersebut akan memberikan informasi yang kita sukai. Algoritma ini dibuat agar kita betah scrolling media sosial tersebut. Hal ini malah menambah peluang membangun hoaks. Dengan kita suka beberapa postingan, tokoh, dan lainnya, maka kita akan menyingkirkan hal yang tidak kita sukai. Ketika hal yang tidak kita suka tersebut diberikan bumbu hoaks. Bisa saja kita ikut terpancing untuk berkomentar. Mengenai hal yang sebenarnya belum jelas benar. Tetapi karena kita sudah terlanjur membenci, hal inilah yang bisa merusak, dan berbahaya kedepannya. Dikarenakan emosi lebih didahulukan dibandingkan dengan fakta yang ada.

Ketika seseorang tahu bahwa ia yang sebenarnya salah, justru ia akan semakin mengganas untuk kemudian menyerang pihak-pihak yang lain. Karena mereka menganggap kesalahan mereka sebagai suatu aib yang perlu disembunyikan. Mereka malu mengakui bahwa diri mereka salah. Maka peran media ialah untuk menyeleksi, bukan ikut pula menyebarkan kebohongan. Sementara perpustakaan sebagai tempat sumber informasi yang bisa untuk dipercaya, telah tersaring dengan baik, tersusun dengan rapi, dan sistematis. Perpustakaan sebagai tempat yang tepat untuk melakukan kontemplasi dan memulai untuk berpikir kritis.

Saat ini sebaiknya kita tidak langsung untuk membagikan informasi, karena ikut-ikutan hal yang tidak kita mengerti. Apabila informasi yang kita sampaikan ternyata sebuah kebohongan, maka hal ini bisa merusak kepercayaan orang terhadap kita. Ketika kita terlanjut menyampaikan hal yang kurang baik, introspeksi diri ialah hal yang perlu kita lakukan. Semoga semakin banyak orang yang menyadari bahwa perlunya untuk bersikap kritis agar tidak mudah tertipu, dibohongi, diadu domba oleh pihak-pihak yang memang sengaja melakukannya atau pun pihak-pihak yang memang mengambil keuntungan dari hoaks yang beredar.

Editor: Nurana Prasari, S.H