Muktamar DDI XXII: Harapan Ketua Umum PW IMDI Sulsel

SUARA UTAMA, Sulawesi Selatan – Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) adalah ormas yang berbasis keagamaan (Islam), yang dirintis oleh AG. KH. Abdurrahman Ambo Dalle, beliau adalah sosok ulama kharismatik yang berasal dari tanah Sulawesi Selatan. Beberapa puluh tahun  yang lalu tepatnya di Watang Soppeng (Kab. Barru) ulama Sulawesi Selatan pada saat itu berkumpul dan bermusyawarah untuk membentuk organisasi yang bergerak di wilayah keagamaan, daerah ini juga sekaligus menjadi cikal bakal dan saksi berdirinya ormas Islam Darud Da’wah Wal Irsyad atau yang biasa kita kenal DDI.

Gerakan ormas Darud Da’wah Wal Irsyad terfokus pada Triloginya, yaitu: Pendidikan, Dakwah, dan Usaha Sosial yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Pada prinsipnya dakwah adalah perintah untuk mengajak atau menyeru umat manusia agar menempuh kehidupan ini sesuai dengan prinsip ajaran Islam.

Pada 2022, diusianya yang kurang lebih 75 tahun Darud Da’wah Wal Irsyad melaksanakan hajatan besar yang dikenal dengan Muktamar ke-22 (XXII), salah satu rangkaian kegiatannya adalah Laporan Pertanggungjawaban Kepengurusan dan Pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI), hajatan ini dilaksanakan 5 tahun sekali. Selain dari itu, hajatan ini merupakan wadah pertemuan silaturahmi bagi seluruh kader dan warga Addariyah. Sebagaimana dirilis oleh dapur redaksi suarautama.com, Rabu, (23/02/2022).

Kegiatan ini juga merupakan upaya penyegaran kepengurusan dan refleksi terkait pencapaian, perkembangan, ataupun stagnasi Darud Da’wah Wal Irsyad baik secara internal maupun eksternal.

Jika kita melihat historis Darud Da’wah Wal Irsyad yang awal berdirinya boleh dikata hanya ada di beberapa daerah saja khususnya Provinsi Sulawesi Selatan. Tetapi, seiring berjalannya waktu kader dan warga Darud Da’wah Wal Irsyad itu mampu mengembangkan sayap dan mempertajam eksistensinya dengan tersebar di seluruh penjuru tanah air Indonesia, ini dibuktikan dengan adanya Pengurus-pengurus Wilayah dan Daerah yang terbentuk hampir di seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Ini bukti bahwa Gerakan Pendidikan, Dakwah, dan Usaha Sosial yang menjadi Trilogi Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) diterima dengan hangat oleh khalayak masyarakat Indonesia, tentu ini merupakan misi perjuangan Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle dan para Ulama-ulama Sulawesi Selatan yang telah  menyebarkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah sesuai dengan tema yang diusung pada kesempatan Muktamar kali ini “Aktualisasi Nilai-nilai Wasathiyah Addariyah untuk Indonesia Maju”. 

Selain daripada itu, eksistensi dan ketajaman Darud Da’wah Wal Irsyad bukan hanya terletak pada struktur kepengurusan. Melainkan juga dengan lembaga pendidikannya yang hampir ada di seluruh penjuru tanah air, dimulai dari tingkat Raudhatul Athfal (RA/TPA/TPQ), Madrasah Ibtidaiyah (MI/MDA/SD), Madrasah Tsanawiyah (MTS/SMP), Madrasah Aliyah (MA/SMA/SMK), dan Perguruan Tinggi (STAI/INSTITUT DDI).

Darud Da’wah Wal Irsyad bukanlah organisasi politik dan organisasi yang hanya memperjuangkan satu kelompok tertentu yang mengundang para elit-elit politik untuk saling berebut dan menjadikannya sebagai objek politik atau kendaraan. Melainkan Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) adalah organisasi sosial keagamaan yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam beragama.

“DDI sebagai organisasi yang bergerak di bidang Pendidikan, Dakwah, dan Usaha Sosial memiliki peran yang besar untuk seluruh umat manusia dan mampu lepas dari ego sektarian, kelompok/golongan, entitas dan identitas tertentu, sehingga tidak terjebak pada kepentingan politik dan golongan tertentu,” ujar Mursyid Nur Khalik Ketua Umum PP IMDI. 

Dan juga, sebagai generasi muda yang berkecimpung dalam salah satu Badan Otonom DDI, tentu dalam hajatan Muktamar Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) ke-22 (XXII), kami memiliki harapan yang besar terhadap Pengurus baru Darud Da’wah Wal Irsyad yang nantinya akan terpilih. Bagaimana mampu menahkodai DDI secara organisatoris, memberikan keteladanan, serta mengelola sumber daya manusia yang ada demi perubahan dan kemajuan.

Reporter: Izrail

Editor: Nurana Prasari, S.H