Sebuah Nasihat Cinta

Oleh : Azizah Maghfiroh

Eks Pengurus Komunitas Taklim Jurnalistik (TAKTIK COMMUNITY) dan Penulis Buku 

Di halaman depan rumah kuno itu ada seorang anak perempuan yang sedang di nasihati oleh ayah tercintanya.

“Begini nduk,

Pada suatu malam yang ditumpahi cahaya rembulan yang bersinar terang ada seorang kiai sepuh dari Jawa Tengah bertutur kepada puluhan santrinya. Semua para santri menyimak dengan penuh Khidmah, kalimat demi kalimat yang keluar laksana mutiara. Dengan suara yang pelan dan santun sang kiai itu memberi nasehat kehidupan.

Saya ini dulu sudah mengaji ke beberapa pondok tertua di Jawa timur, Jawa barat sampai ke luar Jawa dan lamanya hampir 20 tahun. Namun sekembalinya ke rumah perasaan saya tak dapat ilmu yang berharga kecuali hanya sedikit saja. Kemudian saya ingat kepada almarhum kakek yang pernah berpesan. ‘Mencari ilmu itu harus dibarengi dengan cinta. Dan cinta itu harus menemukan rasa, lalu mampu menyatukannya.’ Namun, saya masih bingung apa maksud kalimat itu.

Maksud dari pada cinta itu sendiri ternyata adalah seperti apapun keadaanya ketika kita sedang mencari ilmu kita harus siap berkorban, berjuang dan bertahan di atas keprihatinan.

Sang Ayah berkata lagi,

“Padahal Kiai sepuh itu sudah melakukan semuanya. Bisa baca kitab dan menguasai beberapa kitab kuning. Namun semua itu seperti hanya di lidah saja belum sampai masuk ke dalam hati apalagi mengamalkan secara perbuatan.”

Di kemudian hari, Kiai sepuh yang sedang dalam tapanya, tiba-tiba mendapat isyaroh mimpi dari gurunya. Kiai itu dipanggil oleh sang guru. Dan bermaksud untuk menikahkan dengan putrinya.

Berkatalah anak perempuan itu,

“Wah, senang ya, dapat anak gurunya sendiri”

“Hemm, belum selesai nak, jadi Putri gurunya itu sudah usia 40 tahun, sedangkan Kiai sepuh pada masa itu usia 33 tahun.”

Guru berkata, nikahi putriku. Jangan pernah ditinggal sekalipun hingga ajal menjemputnya. Apakah ada yang kau tanyakan perihal putriku?

Kiai sepuh itu tak berani menjawab. Setahunya Putri gurunya itu sakit lumpuh puluhan tahun dan selalu menyendiri dalam kesehariannya. Apakah bisa menemukan bahtera rumah tangga yang indah dan bahagia jika bersanding dengan perempuan seperti itu. Namun karena ini perintah gurunya, Kiai sepuh itu tak berani berkutik dan bertanya. Yang ada hanya sendiko dawuh.

Lima menit itu benar-benar mengubah saya. Hati saya benar-benar menjadi tawakkal, pasrah kepada Allah. Batin Kiai sepuh.

Begitulah singkat ceritanya. Jadi nasihat yang di pahami oleh para santri itu adalah…

Jodoh itu tidak bisa di tebak oleh akal manusia. Dan cinta ayah seperti kehidupan ini, tanpa perlu engkau minta, tanpa perlu engkau cari anakku, ia pasti datang dengan sendiri.”

Ini aku tulis baru saja. Semoga ada hikmah yang bisa di petik dari kiasan tersebut.

Editor : Mas Andre Hariyanto